"Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil 'aalamiin"



 Tidak malukah kita dengan tasbihnya langit nan luas itu..???

Sekali-kali langit tak pernah berbangga diri walau keindahannya nampak jelas oleh mata kita

Tidak malukah kita dengan dzikirnya laut..???

Laut tidak sekalipun pernah berkata : " Aku tak tercela karena kata-kata yang ku ucapkan selalu baik dan lihatlah amal ibadahku pada-NYA sempurna"
Tidak malukah kita dengan ketaatan fajar...?
Yang mempesona sinarnya dikala pagi mulai beranjak terang
Namun tidak juga fajar berujub diri menampilkan dirinya taat perintah Robbnya dihadapan manusia
Hafalan kita, sholat kita, puasa kita, dzikir kita... apakah harus diketahui oleh semua orang...???
Sahabat saudaraku fillah...

Ibnu Athaillah rahimahullah pernah berpesan :

" Kebanggaanmu bila orang lain melihat kelebihanmu adalah bukti ketidakjujuranmu dalam beribadah. Maka kosongkanlah pandangan orang lain terhadap dirimu. Cukup bagimu pandangan Allah terhadap dirimu. Tidak perlu kamu tampil di hadapan mereka agar engkau terlihat di mata mereka. "

Astaghfirullahal adzim... Ketidakjujuran seseorang dalam beribadah ternyata bisa dinilai dari perasaan bangga atau tidak bila ada orang lain yang melihat kebagusan ibadahnya.

Banyak Beramal Tapi Masuk Neraka?

Ketahuilah… Sesungguhnya tidak semua penghuni Neraka adalah orang-orang yang di dunianya gemar berbuat maksiat, seperti kecanduan khomr, pemain judi, para pelaku zina dan lain sebagainya. Akan tetapi ternyata ada juga di antara penghuni Neraka adalah orang-orang yang di dunianya rajin beramal, bahkan mereka adalah orang-orang yang beribadah sampai kelelahan karena begitu beratnya amalan yang dilakukan. Mereka mengira akan datang menghadap Allah Ta’aladengan membawa amalan putih seberat gunung Tihamah. Namun Allah menolak dan tidak menerima amal mereka. Amalan mereka laksana debu-debu beterbangan yang tiada memberi manfaat sedikitpun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالاً (103)
الَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا (104)
“Katakanlah: ‘Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104).
Demikian pula Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُوْرًا (23)
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).
Diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لأَعْلَمَنَّ (لاَ أَلْفَيَنَّ) أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بَيْضًا فَيَجْعَلُهَا اللهُ عز و جل هَبَاءً مَنْثُوْرًا
“Aku benar-benar mengetahui ada beberapa golongan dari umatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebajikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, lalu Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 4245. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 5028).
Mengapa orang-orang yang disebutkan dalam ayat di atas sudah beramal tapi malah ganjarannya Neraka? Mengapa amalan mereka tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? 

Semoga Allah membukakan pintu rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga setiap amal ibadah yang kita lakukan hanya mengharap ridha Allah bukan sekedar sensasi atau mencari popularitas di hadapan manusia, aamiin 

NB : 
Sebagian besar tulisan ini dikutip dari community FB ✿WANITA SHOLEHAH✿Mutiara Muslimah Sejati♥ 
Tulisan ini mengingatkan pada kutipan sebuah buku berjudul : Menapak jejak kekasih Allah. Yang namanya kekasih pasti lebih senang berkhalwat dengan kekasihnya. Dari semua rahasia, pembicaraan, aktivitas dengan kekasihnya tak perlu ada yang mengetahuinya kecuali meraka berdua. Begitu halnya jika kita menganggap Allah sebagai kekasih kita, Cukup Allah saja yang tahu baik dan buruknya kita, Orang lain cukup merasakan akhlak baik kita (walau kita belum sebaik itu) dan jangan sampai kita merugikan meraka. Sahabat tegur aku jika aku salah, Wallahu'alam....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

ratri mengatakan...

dari JUDULnya....seluruh bentuk apapun aktifitias manusia hanyalah untuk pengabdian dan persembahan kepada Tuhan SWT.
Aku bekerja mengharap upah yg halal untuk membeli makanan dan kebutuhan harian anak2 yg dititipkan padaku....menjadi sangat keliru pemahamannya. Apalagi rencana untuk membeli sepatu baru ataupun bertamasya keluarga wadau...jauh dari JUDUL blog ini tujuan jerih payahku.

Sebagai catatan 'wanusuki' = tatacara hidup/aturan hidup bukan ibadah seperti kebanyakan orang menterjemahkan, ibadah dalam bahasa Arab kata dasarnya adalah abada (abdi, mengabdi).

Pendidikan anak2 pun hanyalah untuk mengabdi/penyembahan pada Tuhan Raja manusia dan mengabaikan seluruh ketakutan akan kemiskinan akan harta dimasa depannya (duniawi).....
Bisakah ini diterapkan jaman akhir sekarang ini? sedang kurikulum pendidikan tolok ukur sukses masa depan anak adalah kemudahan memenuhi kebutuhan duniawi dg cara halal katanya.....jauh dari JUDUL blog ini.

Aku sadar, aku tak tahu batas usiaku, besok masih hidup ataukah mati.
seandainya mati, Tuhanku yang memelihara anak-anakku dengan cara-Nya. Tapi bagaimana dengan anakku yang ingin les IPA diluar sekolah, tepatkah jika aku memenuhinya? Bukankah itu tak sesuai JUDUL blog ini?

Posting Komentar